Sesudah Listianto Raharjo, Gantian Indriyanto Nugroho Membersihkan Masa lalu Bersama-sama Pasoepati

Posted on

Solo – Sesudah Listianto ‘Bejo’ Raharjo mengunjungi rumah lahirnya Pasoepati, gantian Indriyanto Nugroho yang turut membersihkan kangen dengan supporter fanatik asal Solo itu.

Nama Indriyanto Nugroho pun tidak dapat dipisah untuk idola Pasoepati pada awal milenium.

Pria yang dekat dipanggil Nunung ialah pilar Pelita Solo, club yang disebut team waktu lahirnya Pasoepati tahun 2000. Semasa dua musim Nunung turut jadi sisi dari Pelita Solo sebelum pada akhirnya geser ke Cilegon dengan nama Pelita Krakatau Steel.

Nunung berkunjung ke rumah yang sekaligus juga tempat lahirnya Pasoepati yang berasal di Nayu Timur Nusukan, Kota Solo, Jumat (26/6/2020) siang. Dia tiba bersama-sama seorang rekan, serta diterima oleh Presiden Pasoepati, Mayor Haristanto.

Nunung masuk dalam satu ruang yang penuh masa lalu serta berisi beberapa atribut Pasoepati. Dengan cermat, dia lihat photo atau tulisan mengenai perjalanan Pasoepati semenjak awal berdiri. Dia demikian teringat bagaimana situasi publik Solo dengan kedatangan Pelita waktu itu.

Nunung bercerita besarnya apresiasi supporter Pelita Solo di saat itu, sampai prestasi yang terbayarkan dengan maju ke set delapan besar di Senayan. Satu panorama yang tidak dapat dia peroleh waktu Pelita masih berkandang di Ibukota Jakarta.

“Mengagumkan Pasoepati, harus saya mengakui. Supporter pertama yang memberi suport demikian besar pada Pelita. Saat di Jakarta main di Stadon Lebak Bulus, cuma ada banyak pemirsa yang tiba,

Buat Nunung, Pasoepati tidak bisa dia lupakan. Walau cuma dua musim bermain di kampung halamannya, Pasoepati lah yang dapat memberi suport penuh untuk Pelita.

Masa lalu di Manahan

Pria yang sekarang jadi asisten pelatih Tim nasional Indonesia U-16 ini juga menunjuk satu photo pertandingan Pelita Solo menantang PSIS Semarang pada 2000.

Waktu itu ialah pertandingan yang tentukan buat PSIS sebab kalah serta terdegradasi ke seksi satu. Sesaat, Pelita telah pastikan maju ke set delapan besar. Dianya harus mangkir dalam pertandingan itu sebab tidak ditinggal di mes Jakarta.

“Di Stadion Manahan atmosfernya edan. Saya masih ingat waktu keluarga yang ingin tonton ke Manahan,
jadi tidak dapat masuk sebab jam 13.00 siang ticket telah habis, bukti fanatiknya supporter Solo,” katanya.

“Selanjutnya saya masih ingat pertandingan di Yogyakarta serta Surabaya, Pasoepati dapat mengeluarkan anggotanya dengan skala besar di kandang musuh,” lanjut pemain Tim nasional Indonesia di Piala Asia 1996 ini.

Walau asli Kabupaten Sukoharjo serta belajar sepak bola di daerah Surakarta, Indriyanto Nugroho
akui benar-benar ingin meniti karier di tanah kelahiran kelak. Dia tidak menolak punyai kemauan melatih Tepat Solo serta kembali lagi bertemu dengan Pasoepati.

“Saya respek sama Pasoepati, mudah-mudahan tetap solid serta masih bawa virus perdamaian. Saya Pribadi satu waktu ingin membesut Tepat Solo, yang sampai saat ini belum kesampaian, walau saya orang Solo,” jelas bekas lulusan program PSSI Primavera ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *